postingangejekedua

Kuakuin, aku memang seneng kalau ngeliat kamu seneng. Aku ikut bahagia kalau ngeliat kamu bahagia. Biarpun aku tau, kamu suka dia. Kamu ga suka aku. Waktu disuruh bikin kelompok cewek-cowok juga… Kamu milih dia sebagai partner kamu, kan?

Kamu ga tau. Waktu aku ngeliat kamu duduk di sebelah dia, ngobrol sama dia, ngomong pake suara rendah (yeah, dari tempat aku sih kedengeran): “Aku suka kamu.”, kamu megang tangan dia… Cemburu. Aku cemburu berat. Aku mulai gerah ada di sini, di kelas.

Aku cepet-cepet nyelesaiin tugasku (partnerku sampe cengo gara-gara bagiannya dia aku kerjain) dan minta izin ke toilet.

Kamu ga tau, kan? Aku nangis. Aku males balik ke kelas. Aku males ngeliat kamu deket-deket sama cewek itu. Waktu kita disuruh meriksa hasil tugas temen-temen kita yang lain… Dan waktu aku dapet kertas tugas ‘cewek itu’, kamu langsung minta tukeran.

Biarpun kita duduk sebelahan, tapi kamu ga pernah ngeliat aku. Kamu selalu ngeliat dia.

Oh yeah! Aku memang ga layak buat kamu. Aku akuin itu, kok…

Dulu, waktu kita masih SD… Kamu bener-bener friendless, dan akhirnya kamu minta aku jadi temen kamu. Waktu itu, aku niat bikin orang-orang lain ‘kenal’ kamu. Aku pengen orang-orang lain bisa ngeliat sisi baik kamu. Bukan sisi troublemaker-yang-udah-terancam-dikeluarin-dari-sekolah.

Aku suka kamu. Dari dulu. Sampe waktu kita masuk SMP, mereka bener-bener mulai ‘kenal’ kamu. Mereka bener-bener mulai ngeliat sisi baik kamu.

Dan yang lebih parah lagi… Cewek-cewek mulai ngejar kamu. Kamu bener-bener jadi populer. Dan apa? Kamu ninggalin aku. I’m nothing for you.

Dan di antara semua cewek itu… Kamu bener-bener ngejar satu cewek. Dia. Sahabat aku sendiri. Anak pindahan dari kota lain yang baru kamu temuin taun lalu. Kamu bahkan ga tau ‘siapa’ sebenernya dia. Kamu bahkan ga tau gimana sifat dia yang sebenernya. Kamu suka dia.

Kamu cinta dia. Cemburu… Cemburu berat…

Dulu, aku memang ga mau ngakuin kalau aku suka kamu. Beda, sekarang beda! Aku suka kamu!

Tapi kamu ga…

Kamu suka dia…

Kamu mati-matian belajar nyukain rubik, supaya obrolan kamu sama dia nyambung. Kamu sering pura-pura mau nyobain main rubik—sebenernya kamu bisa, kan? Kan kamu yang ngajarin aku rubik—dengan ngambil rubiknya dari tangan dia. Oh, itu cuman alesan. Sebenernya, yang kamu pengen cuman megang tangannya dia, kan?

Aku ga layak suka kamu. Aku ga layak deket-deket sama kamu. Ibaratnya… Kamu itu dari ‘kalangan atas’, dan aku ini dari ‘kalangan bawah’.

Aku udah berkali-kali nyobain buat ngelupain kamu, dan ga berhasil!

Makanya… Tolong, biarin aku jaga perasaan ini. Perasaan yang cuman yang cuman nyakitin aja. Aku… Suka kamu. Aku memang terlalu pengecut buat ngomong ini di dunia nyata. Makanya… Kalau kamu ngeliat blog ini, aku cuman pengen kamu tau gimana perasaanku waktu aku ngeliat kamu & dia mesra-mesraan di depan aku…

Dan kalau kamu bener-bener ngeliat blog ini…

Aku pengen kamu tau..

I love you…

Ditulis pada Uncategorized | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Postingangeje

I should know it… Kenapa, coba?

Aku dan salah satu temen cewekku—kamu… Kenapa kita selalu suka sama orang yang sama? Please, deh…

Aku udah ngerelain cinta pertamaku buat kamu. Dan kamu gagal. Cinta pertama kita itu akhirnya nolak kamu. Dan habis terpuruk habis-habisan, akhirnya dia—yang jadi second love-ku—ngulurin tangan, nawarin ‘awal yang baru’.

Dan pelan-pelan, mulai hari itu—mungkin sekitar setaun yang lalu—aku suka dia. Suka. Suka banget. Dia, _ _… Temenku dari kecil, orang yang selalu aku suka…

Dan WHAT THE HELL?! Kamu juga suka sama dia!

Kamu agresif, aku posesif.

Kamu terang-terangan nunjukin kalau kamu sukasama dia, tapi aku terlalu takut buat nunjukin itu.

Please, deh… Kita sahabat, kan? Aku ga pernah nyangka, bakal ngelawan sahabat aku sendiri…

Dan yang paling parah…

Dia suka kamu. Aku tau itu. Dia selalu jutek sama cewek yang berani deket-deket sama dia. Tapi dia ga gitu ke kamu. Aku bisa tau itu. Aku denger suara manja dia waktu dia manggil nama kamu, ngajak kamu jalan berdua.

Kamu ga tau, kan? Habis itu aku nangis. Hampir seluruh jam istirahat aku abisin buat nangis.

Kamu, dengan happy-nya, bilang ke aku kalau kamu suka dia dan minta aku buat ngedukung hubungan kalian.

What the hell!!

Jujur aja, selama ini, satu-satunya yang jadi penyemangat aku buat dateng ke sekolah tuh dia. Dan sekarang, aku bener-bener males ke sekolah.

Aku males liat kalian berdua mesra-mesraan. Aku males ngeliat kamu yang bersikap seakan-akan kamu udah jadi istrinya.

Kamu ga pernah tau. Aku juga suka dia! Kamu ga tau gimana senengnya aku waktu dia senyum, manggil nama aku, megang tangan aku pelan, waktu dia ngomong ke aku…

Ga, kamu ga tau.

Dia senyum, dia ngegenggam tangan, dia ketawa, dia mencintai…

Tapi… itu bukan buat aku. Itu buat kamu.

To be honest, I’m jealous so much.

Aku ngerelain cinta pertamaku buat kamu.

Dan sekarang, kamu mau aku ngerelain dia juga? NO WAY!

I love him. But he not. He love you..

Sekali lagi…

Goodbye, my love…

You’ve found your love… And it’s not me.

Do you love me? Do you love me not?

Yeah, you love her. You hate me…

Dia suka kamu. Kamu suka dia.

Aku suka kamu. Kamu suka dia. Dia suka kamu.

Mungkin kamu pikir, aku ini pengganggu.

I’ll try.

Aku bakal nyoba buat ngelupain kamu. Sekali lagi, ngerelain cintaku.

Help me to do it.

Don’t let me love you anymore…

Ditulis pada Uncategorized | Di-tag , , | Tinggalkan Komentar

It’s About Him

It’s About Him

Nama panggilannya _ _. Dia temen sekelasku, dia temenku dari kecil, hem… Sahabatku. Dia orang pertama yang—entah gimana—bisa bikin aku grogi & salting banget.

Dan entah gimana…

Sekarang, aku malah suka sama dia. Ga tau sejak kapan, gimana, dan kenapa. Aku cuman tau jelas kalau aku suka banget sama dia.

Aku sama dia duduk sebelahan di sekolah. Dan gara-gara nomer absen kita sebelahan, beberapa kali kita juga duduk barengan.

Dan yang bener-bener bikin aku dag dig dug… Pelajaran komputer dua minggu lalu. Gara-gara koneksi internet di komputernya error, dia jadi make internetnya bareng sama aku. Dan waktu aku ga nurutin apa yang dia mau (misalnya, dia mau klik itu. Tapi aku maunya klik yang ini, gitu), dia bakal bikin aku bungkam dan nggak protes. Lebih tepatnya, nggak berani protes.

Dia ngeletakkin tangannya di atas tanganku dan ngegerakin mouse. God, dia megang tanganku! Jantung udah mau meledak, nih… Waktu itu, aku cuman bisa ngerasain tangannya yang anget dan agak kasar.

Dan senyumnya… Huah! Bikin meleleh!

Tapi…

Dia suka orang lain. Aku tau itu, kok. Aku suka dia, tapi dia nggak. Dia suka orang lain. Aku inget, waktu itu aku sampe nangis nyaris semaleman.

Memang sama sekali nggak cool, sih—nangis semaleman, gitu, loh!—tapi ya mau gimana lagi. Yang namanya patah hati kan memang gitu.

Nah, sekarang, udah nggak ada lagi yang bisa aku ceritain tentang kamu. Nginget tentang kamu cuman bikin sakit hati aja—yah, biarpun tiap hari ketemu, sih.

Sekarang, aku juga ga mungkin bikin kamu suka sama aku, kan?

Makanya, yang aku pikirin sekarang cuman satu: kalau memang dia yang kamu suka, kalau memang cuman dia yang bisa ngebahagiain kamu, mungkin mau nggak mau aku harus ngelepasin kamu juga.

Oke, watashi saigo no kotoba…

Bahagia, ya, _ _…

Kamu harus bahagia, lho… Buat bagian aku juga, ya…

Goodbye,

My love,

_ _…

Ditulis pada Uncategorized | Di-tag , , | Tinggalkan Komentar

[Fanfic] Gomen ne Hinata

Gomen ne Hinata

A Naruto Fanfiction

Disclaimer: Masashi Kishimoto

-yoruzuki23-

“Hei, kau sedang apa di sana?”

“Ka—Kau siapa?”

“Sasuke. Uchiha Sasuke. Kau?”

“Hinata… Hyuuga Hinata.”

-yoruzuki23-

Perkenalan singkat. Namun itu cukup. Cukup untuk membuat Sasuke tertarik pada gadis yang saat itu sedang menangis. Cukup untuk membuat Hinata tertarik pada pria yang saat itu terlihat garang.

Dan entah bagaimana, Sasuke mulai menyukainya. Ia tidak peduli hal lain lagi. Ia menyukai Hinata.

“Sasuke, kau sudah punya kanojo?” tanya Mikoto.

“Hm? Ya,” jawabnya singkat.

“Hee? Siapa? Siapa?”

Sasuke baru hendak menjawab, namun Fugaku memotongnya. “Pastikan itu bukan anak Hyuuga, Sasuke.”

Sasuke kembali bungkam. Memang Hyuuga. Lalu, apa salahnya? “Jadi, siapa kanojo-mu?” tanya Mikoto lagi.

Sasuke menghela nafas pelan. “Tidak ada.”

Seorang Hinata Hyuuga. Yang berhasil kembali mewarnai dunianya. Yang berhasil memberikan warna-warna kehidupan padanya. Sasuke menyukainya—mencintainya. Lantas kenapa? Apa hak orang tuanya untuk melarangnya?

-yoruzuki23-

Hinata membuka pintu menuju atap. “Sasuke?” ia menyeritkan dahi saat melihat Sasuke berdiri di hadapannya. Sasuke menelan ludah beberapa kali.

“Sasuke? Ada apa?”

“Suki…” hanya itu kata yang terlontar dari mulut Sasuke. Namun itu sudah cukup.

Hinata menatapnya, setengah tidak percaya. “Eh?”

“Suki,” kali ini, Sasuke mengatakannya dengan cepat.

“E—eh?”

“Jangan buat aku mengulanginya lagi! SUKI DA YO, HINATA!”

Hinata melongo sesaat. Sebelum seulas senyum tertampang di wajahnya. Dia melompat dan memeluk Sasuke dengan erat.

“Suki… Suki…!”

“Dengar, Hinata…” Sasuke melepaskan pelukannya pelan. “Aku akan melindungimu, Hinata. Meskipun… Aku kehilangan segalanya… Aku—”

“—Ya,” Hinata memotong perkataan Sasuke. “Sudahlah…” ia tersenyum.

-yoruzuki23-

“Sasu…” Hinata menjauhkan bibirnya dari bibir Sasuke. Menarik nafas, sebelum akhirnya ia kembali mendekatkannya.

“Aishiteru…”

“Aishiteru yo…”

Seratus kali. Seribu kali. Bahkan mungkin lebih. Bibir mereka melekat satu sama lain. Dan itulan cara mereka untuk membuktikan perasaan mereka masing-masing. Namun, baik Sasuke maupun Hinata menyadari. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Ini tidak boleh terjadi.

Hyuuga dan Uchiha. Semua tahu, kedua klan tersebut sedang terlibat konflik yang cukup parah.

Keduanya tidak bisa bersama.

Hyuuga dan Uchiha tidak mungkin bersatu.

Keduanya menyadari. Akhir dari hubungan mereka semakin mendekat.

“Hinata.”

“Ya?”

“Sampai kapan… Kita akan bertahan…?”

“Selama yang kita bisa.”

Tidak ada gunanya bagi Hinata untuk mencoba terlihat tegar. Tidak ada gunanya bagi Sasuke untuk bersikap seolah itu bukanlah masalah besar. Akhir. Akhir dari hubungan mereka. Semakin mendekat. Mereka takut menghadapi hari esok, karena itu berarti hari bagi mereka untuk bersama akan berkurang.

-yoruzuki23-

“Hinata, kau boleh memilih satu dari orang-orang ini,” Hiashi menjejerkan beberapa foto di hadapan Hinata.

“U—untuk apa?”

“Aku tidak mengijinkanmu untuk bertemu dengan Uchiha itu lagi. Karena itu, pilihkan satu dari orang-orang ini untuk menggantikannya.”

“Kenapa…?”

“Jangan banyak tanya. Cepatlah.”

-yoruzuki23-

Sasuke menghela nafas panjang saat mendengar semuanya dari Hinata. “Jadi? Yang kau pilih?”

“Pria pirang bermata biru.”

“Ooh…” Sasuke memasukkan tangannya ke saku jaketnya. Rasa sakit mulai menghujamnya. Dengan begini, mereka akan semakin sulit untuk bertemu.

Dengan Hiashi yang telah mengetahui hubungan mereka, maka akhir dari hubungan mereka semakin dekat.

Tidak ada gunanya Hinata menangis.

Tidak ada gunanya Sasuke menyesal.

Sasuke menggigit bibirnya.

Dari beribu kalimat yang ingin ia lontarkan, hanya satu kalimat yang lolos dari mulutnya.

“Gomen ne, Hinata…”

-yoruzuki-

“Siapa dia, Sasuke? Apa dia… Kanojo-mu?” tanya Mikoto saat melihat sebuah foto—yang Sasuke dan Hinata buat di sebuah photobox.

Sasuke hendak mengelak, namun ia sadar. Tidak ada gunanya. Toh gadis itu tidak lama lagi hanya akan menjadi masa lalu baginya.

“Ya,” jawab Sasuke. Mikoto memperhatikannya sesaat. Ia baru hendak berkomentar, namun Fugaku sudah merebutnya dari tangan Mikoto.

“Anak ini… Hyuuga?”

“Ya.”

“SASUKE! Sudah pernah kubilang, kan? Kau tidak boleh—”

“AKU TAHU!” Sasuke menggebrak meja dengan keras dan berjalan keluar. Ia tidak ingin lagi mendengar tentang konflik antara Hyuuga-Uchiha dan bahwa mereka tidak boleh bersatu.

Keluar dari rumahnya. Menuju kediaman Hyuuga. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ponsel Hinata. Tidak bisa dibiarkan berjalan lebih lama lagi. Ia akan mengakhirinya. Hari ini, saat ini. Ia sudah membulatkan tekadnya. Ia akan mengakhiri hubungan mereka.

“Sekarang. Keluarlah. Aku tunggu di depan rumahmu.”

Tanpa menunggu respon dari Hinata, Sasuke menutup teleponnya.

“Sasuke! Maaf, lama menung—”

Perkataan Hinata terpotong. Bibir keduanya bersentuhan.

“Sasuke…?”

“Ini yang terakhir…” kata Sasuke pelan. Mata Hinata membulat. “Apa itu artinya—”

“Ya… Hinata, kau sayang orang tuamu, kan?” tanya Sasuke. Hinata mengangguk.

“Kau tidak ingin mengecewakan mereka, kan?”

Hinata kembali mengangguk.

“Hubungan kita itu salah… Karena itu… Hyuuga dan Uchiha… Aku…” Sasuke menutup matanya. Kalimatnya mulai tidak jelas. Suaranya bergetar. Menahan air mata yang sudah menumpuk di ujung matanya.

Namun, Hinata mengerti. Uchiha dan Hyuuga tidak akan pernah bisa bersatu. Karena itu, inilah akhir dari mereka. Ia tahu, cepat atau lambat, hari ini akan datang juga. Hari di mana semuanya akan berakhir. Sasuke Uchiha. Orang yang mencintainya lebih dari apapun. Kini menyakitinya, lebih dari siapapun.

Sasuke—lagi-lagi—menggigit bibirnya. Hatinya terus-menerus meneriakkan sebuah kata. Kata yang akhirnya diucapkannya.

“Sayonara…”

Akhir dari segalanya. Tak ada lagi pelukan yang menghangatkan, tak ada lagi tangan yang saling menggenggam, tak ada lagi bibir yang saling bersentuhan.

Semuanya telah berakhir.

-yoruzuki23-

Sasuke membalikkan badannya, kembali berjalan menuju rumahnya. Air matanya sudah bercampur dengan hujan yang mendadak turun. Sakit. Hanya itu yang dirasakannya.

.

Hinata membalikkan badannya, kembali masuk ke dalam rumahnya. Hari yang paling ditakutinya akan datang. Telah datang. Tanpa pemberitahuan. Hari yang akan mengakhiri hubungannya.

.

Dan yang pertama terpikir oleh Sasuke adalah: lari. Lari dari perasaannya sendiri. ia harus mencoba untuk menyukai orang lain. Namun, ia tidak bisa. Sekarang, ia mulai membenci sesuatu yang disebut ‘cinta’. Ini adalah salahnya. Ini adalah salah ‘cinta’. ‘Cinta’lah yang telah menyakitinya. Yang telah menyakiti Hinata juga.

.

Hinata menghela nafas berat. Ia sudah tidak mampu tersenyum lagi. Senyumannya kini kosong. Tidak ada artinya. Ya, Sasuke telah menghapusnya. Menghapus senyumannya.

.

“Tadaima.”

“Okaeri. Hei—Kenapa kau basah sekali? Kau hujan-hujanan?”

Sasuke tidak menjawab. Ia segera menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya. Berbagai pertanyaan mulai berkecambuk di dalam pikirannya.

“Itachi-nii,” panggil Sasuke pelan.

“Hn?”

“Apakah… Pertemuanku dengannnya adalah suatu kesalahan?”

Itachi terdiam sejenak. “Aku rasa tidak,” jawabnya. “Semuanya telah diatur. Tidak ada yang namanya ‘kesalahan’ dalam sebuah ‘pertemuan’. Semuanya sudah ditentukan sejak awal.”

“Jadi, aku bertemu dengannya… untuk berpisah dengannya? Semuanya sudah… Ditentukan sejak awal…?”

“Hah?”

“Orang yang… Merampas senyumannya… Orang yang… Paling menyakitinya…” Sasuke mengepalkan tangannya. “Aku. Akulah yang telah merampas senyumannya. Akulah yang paling menyakitinya—lebih dari siapapun. Akulah yang…”

Sasuke mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.

“Maafkan aku… Akulah… Yang paling salah…”

-yoruzuki23-

“Sasuke? Ada apa?” seorang gadis berambut merah mudah segera menggandeng tangannya. Sasuke hanya tersenyum dan berkata ‘tidak ada apa-apa’.

“Ayo pergi, Sakura.”

Sakura. Korban pelariannya. Meski Sasuke berharap, ia akan bisa melupakan perasaannya pada Hinata dengan mencoba untuk menyukai Sakura, ia tetap tidak bisa.

Ia merindukannya. Ia merindukan Hinata. Selama ini, ia hanya selalu memandang Sakura sebagai Hinata. Yang dipandangnya bukan Sakura. Tetap Hinata. Ia ingin bertemu dengan Hinata. Sangat ingin. Tapi, ia tahu, ia tidak akan bisa lagi bertemu dengan Hinata.

Ia pernah kehilangan ponselnya. Ia pernah kehilangan USBnya. Ia pernah kehilangan temannya. Namun, perasaannya tidak seperti ini. Saat ia kehilangan Hinata.

“Sasuke, kau mau ke mana?” tanya Sakura. Sasuke asal menunjuk sebuah toko pada deretan toko di hadapan mereka.

“Café? Baiklah!” Sasuke tidak lagi peduli saat tangan Sakura menariknya menuju café tersebut.

“Oh, ya, Sasuke. Kau punya permohonan?”

“Permohonan? Memangnya ada bintang jatuh?”

“Bukan, bukan… Hari ini kan malam natal.”

“Lalu?”

“Mau ke gereja?”

“Ok.”

Sakura memutar langkahnya. Kini, ia menuju sebuah gereja.

Ia mengatupkan tangannya dan mulai berdoa. “Aku ingin…” bisik Sasuke pelan. ‘Aku ingin bertemu dengan Hinata!’ lanjutnya dalam hati.

Ia tahu, seharusnya, bukan Sakura yang berada di hadapannya.

Melainkan Hinata.

Di malam natal ini.

Ia sudah cukup lelah untuk terus melarikan perasaannya. “Sakura,” Sasuke menarik tangannya yang digenggam Sakura. “Maafkan aku.” Dua kata. Singkat, namun cukup untuk membuat Sakura mengerti maksudnya. “Sasu…?” Sakura menolak untuk mempercayainya. “Maaf.”

Ia membalikkan badannya. Lari. Seharusnya, bukan Sakura yang bersamanya. Melainkan Hinata. Malam ini. Ia ingin bertemu Hinata. Ia tidak bisa lari lagi. Semuanya tidak berubah. Lari tidak akan mengubah apa-apa. Melarikan diri bukan jalan keluarnya. Ia tahu, suaranya, perasaannya, tidak akan mencapati Hinata. Tapi, ia tetap…

“HINATA!”

Aku ingin menemuimu…

“HINATA!”

Sekarang kau ada di mana?

“HINATA!”

Yang seharusnya ada bersamaku sekarang bukanlah Sakura, tapi kau…

“HINATAAA!”

Apa kita sudah tidak bisa bertemu lagi?

Sasuke terengah. Ia berhenti sejenak. Membisikkan pengakuannya dengan pelan. “Aishiteru… Aishiteru, Hinata…”

-yoruzuki23-

Satu minggu. Dua minggu. Tiga minggu.

Sasuke tahu, tidak ada gunanya ia terus mengharapkan Hinata. Namun, ia tetap melakukannya. Ia menganggap orang yang terus mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin didapatkannya adalah orang bodoh. Dan kali ini, ialah yang menjadi orang bodoh tersebut.

“Sasuke,” Itachi memberikan secarik amplop pada Sasuke.

“Dari siapa?” tanya Sasuke.

“Hyuuga.”

“Hyuuga?” Sasuke menyeritkan dahinya. Ia lalu mengambilnya dari tangan Itachi dan membukanya. Matanya melebar, sesaat sebelum hatinya mencelos. Ia lalu tersenyum miris. “Mereka sengaja mengirimnya padaku,” bisiknya. “Mereka sengaja…”

-yoruzuki23-

Penutupan peti. Sasuke segera berjalan menuju peti tersebut dan menatap Hinata. Untuk yang terakhir kalinya. Sebelum ia tidak akan bisa lagi melihat Hinata untuk selamanya. Sasuke menatap mayat di hadapannya dengan tatapan kosong. Mayat Hinata. Hinata. Hinata-nya. Meninggalkannya di dunia ini.

“Saat kita lahir, kita menangis sementara orang-orang di sekeliling kita tersenyum. Saat kita mati, kita yang tersenyum sementara orang-orang di sekeliling kita menangis. Benar-benar… Aneh, ya…?” Neji membuyarkan lamunan Sasuke.

“Kau ingin bilang… Sekarang, Hinata sedang tersenyum?”

Neji tersenyum tipis. “Ya.”

Sasuke kembali menghela nafas panjang. Ia mencintai Hinata. Lebih. Lebih dari apapun. Tapi kenapa… Semuanya begitu kejam. Kejam, sangat kejam. Mempermainkan perasaan orang seperti ini. Sangat kejam. Namun nyata.

Semuanya sudah ditentukan sejak awal.

Pertemuan dan perpisahan.

Semuanya telah ditentukan.

Sasuke sudah sangat menyakiti Hinata. Maka kali ini, Hinata-lah yang menyakitinya. Adil, namun kejam.

Sasuke yang sudah merampas senyum Hinata. Maka kali ini, Hinata-lah yang merampas senyumannya.

“Takdir memang kejam, ya…”

-yoruzuki23-

Sasuke meletakkan bakung hitam di depan sebuah batu nisan.

“Sudah setahun, ya?”

“Hn.”

Sasuke menepukkan tangannya beberapa kali, sebelum akhirnya ia menunduk dan mengatupkan tangannya. Neji—yang berdiri di sebelahnya—juga melakukan hal yang sama.

Hinata. Yang pernah disakitinya. Yang pernah menyakitinya. Yang pernah dirampas senyumnya. Yang pernah merampas senyumnya.

“Sasuke, kau tahu kenapa Hinata meninggal?”

“Tidak.”

“Tertabrak mobil. Karena saat itu, ia tidak memperhatikan jalan.”

“Hn.”

“Kau tahu kenapa ia tidak memperhatikan jalan?”

“Tidak.”

“Karena ia terus memperhatikan ini,” Neji mengeluarkan sebuah foto dari sakunya. “Ini…”

“Ya. Foto yang kalian buat di photobox.”

Sebuah foto. Baik Hinata maupun Sasuke sedang tersenyum. Di tengahnya, berbagai tulisan dan coret-coret menghiasi foto tersebut. Dan di belakang foto tersebut, terdapat sebuah tulisan. “A-i-shi-te-ru Sa-su-ke…?” hati Sasuke kembali mencelos.

Ini salahnya. Salahnya. Tidak hanya menghapus senyuman Hinata, ia bahkan merampas nyawanya. Hatinya mulai kacau.

Dari beribu kalimat yang ingin dilontarkannya, hanya satu kalimat yang lolos dari mulutnya.

“Gomen ne, Hinata…”

.::owari::.

Udah ada yang bisa nebak itu songfic dibuat dari lagu apa? Yep, lagunya Yamapi yang Gomen ne Juliet. Ini sebenernya udah di-post di FFn~ Yah, ini memang fanfic dari temenku, sih. Cuman, gara-gara dia ga punya blog, dia nyuruh aku buat nge-post ini di blogku~

Jangan lupa review di FFn juga, yaa~

Ditulis pada Uncategorized | Di-tag , , | Tinggalkan Komentar

[Fanfic] About Us

About Us

A Ryuusei no Kizuna Fanfiction

KouichiXSagi

Disclaimer: not mine~


.
Aku tidak begitu mengenalmu.
.
“Axel!!”
.
Aku bahkan tidak tahu siapa kau.
.
“Axel adalah pacarku!”
.
Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tahu
tentang masalah-masalahku.
.
“Masalah kita berbeda, Axel. Berbeda satu oktaf—kalau kau mengerti maksudku.”
.
Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengenalku.
.
“Curang! Axel bahkan tidak memberikan apa-apa pada hari ulang tahunku!”
.
Aku tidak tahu bagaimana bisa kau tiba-tiba datang dan mengaku sebagai pacarku.
.
“Hayashi Rice dan daging iris sama saja, kan?!”
.
Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa mengendalikan emosiku.
.
“Bukankah tinggal bersama itu normal, Axel?”
.
Aku tidak tahu bagaimana kau bisa ikut campur dalam urusanku.
.
“Aku sudah melakukan seperti yang diminta Axel!”
.
Tapi, aku mengerti satu hal.
.
“Aku suka Axel!”
.
Kau telah menggebrak hatiku.
.
“Axel suka aku?”
.
Dan kini, entah bagaimana…
.
“Aku akan menunggu Axel. Karena itu, cepatlah keluar dari penjara. Aku merindukanmu, Axel…”
.
Aku…
.
“Aku janji akan menunggu Axel keluar dari penjara.”
.
Mencintaimu…
.
“Aishiteru, Axel…”
.
Sagi…
.

Aku menghela nafas panjang. Lusa. Masa penjaraku akan berakhir. Aku akan keluar lusa. Aku sudah mengirim surat pada Shii, Taisuke, Togami, dan Hayashi. Dan kini, masih ada satu surat lagi di genggamanku.
Ragu, apakah aku akan mengirimnya.
Atau tidak.
Aku sudah memberikan surat—tentang masa hukumanku yang berakhir besok—pada Shii, Taisuke, dan Togami. Tapi, aku tidak memberikannya padanya.
Bukan, bukan karena aku tidak ingin dia tahu—well, Shii atau Taisuke pasti memberitahunya.
Hanya saja, beberapa kata tambahan yang kutulis di akhir surat tersebut—
Ah, ingin kuhapus saja. Tapi entah kenapa, tidak bisa.
Sagi.
Ya, Sagi.
Selama ini, selain Taisuke dan Shii, yang memenuhi pikiranku selama aku berada di penjara adalah dia. Sagi.
Wanita yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai pacarku. Lalu tinggal bersamaku dan Hayashi di restoran milik Hayashi. Yang—entah bagaimana—membuatku mencintainya. Ya, selama ini, Taisuke bilang bahwa aku orang yang tidak bisa bergaul. Jangankan pacar, teman saja tidak punya.
Aku juga ingat saat Taisuke tertawa keras—dan lama—sekali saat mendengar dari Shii bahwa aku sudah punya pacar—Sagi.
Awalnya aku tidak terlalu menganggap serius Sagi.
Tapi pada akhirnya… Yah, beginilah. Aku jatuh hati padanya. Pada seorang Sagi.
.
“Kau sudah boleh keluar, Ariake Kouichi-san. Semoga kita tidak bertemu lagi,” kata petugas itu padaku. Ia membukakan pintu, dan aku keluar dari penjara ini. Aku menghirup udara segar. Sudah lama aku tidak bisa sebebas ini. Akhirnya, aku keluar juga dari penjara ini. Aku tersenyum dan membungkuk, mengucapkan ‘terima kasih’. Yah, meskipun aku sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah—Shii sudah memberikan alamatnya padaku—, tapi aku tetap mampir ke sebuah tempat.
“Koicchan!” serunya—Hayashi George. Aku tersenyum. “Kau masih menyimpan benda yang kutitipkan padamu waktu itu, kan?” tanyaku. Ia mengangguk. “Ini,” katanya sambil memberikan sebuah kotak padaku.
“Terima kasih.”
“Oh, ya, Koicchan… Apa isi kotak itu?” tanya Hayashi. Aku tertawa. “Kurasa, kau sudah mengetahuinya, Hayashi-san,” jawabku. Ia memperhatikannya sejenak.
“Jangan bilang kalau itu… Cincin?!”
“Oke, aku tidak bilang. Jaa~!” aku melangkah keluar.
Ya, kotak yang kutitipkan pada Hayashi 2 tahun lalu, tepat sebelum aku menyerahkan diri pada polisi bersama Taisuke. Isinya memang cincin. Yang akan kuberikan pada—yah, kalian tahu sendiri, kan?
Aku mengikuti tanda yang diberikan Shii—menuju rumah yang akan kutempati.
Aku tercengang.
Ariake?
Aku kini tidak bisa menahan senyumku. “Pfft… Ini ideku, tahu!” kataku sambil tertawa pelan.
“Axel?”
Suara ini…
“Axel! Kau sudah pulang!” ia memelukku, erat sekali. Ya, ia, orang yang selalu kurindukan.
“Sa—Sagi… Lepas…” aku mencoba melepaskan pelukannya yang kelewat erat itu.
“Shizuna! Taisuke! Axel sudah pulang!” teriaknya sambil melongok ke dalam.
“Aniki!” seru Taisuke dan Shii bersamaan.
Senang. Tapi, masih ada yang mengganjal di hatiku. Aku harus mengatakannya. Harus…
“Shii, Taisuke, bisa kalian masuk dulu? Ada yang ingin kukatakan pada Sagi,” kataku. Keduanya mengangguk dan masuk. Sagi menatapku heran. “Apa?” tanyanya.
Aku menghembuskan nafas, lalu menarik nafas lagi… Dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya keberanianku terkumpul.
Aku mengambil kotak tersebut dari saku jaketku dan memberikannya pada Sagi.
“Ngg…” aku harus mulai dari mana?! Padahal, selama di penjara aku sudah memikirkan ribuan kalimat, tapi sekarang pikiranku serasa kosong.
“Axel?”
“Ini,” akhirnya, aku hanya memberikan kotak tersebut pada Sagi.
“Ini…”
“Otanjoubi Omedetou, Sagi. Maaf terlambat. Lalu, ini…” aku mengambil cincin itu dari dalam kotaknya. “Tanda,” kataku. Ia menatapku bingung. “Hah? Tanda apa?”
“TandabahwakaubersediauntukmenjadiAriakeSagi,” kataku cepat. Ia bengong sebentar. “Hah? Katakan lebih lambat. Aku tidak bisa menangkap kata-katamu, Axel!”
“Tanda bahwa kau bersedia untuk menjadi Ariake Sagi,” kataku lagi, kali ini lebih lambat. Matanya membulat sempurna, lalu kemudian ia memelukku, erat—lebih erat dari yang pertama tadi. “Jadi, apa jawabanmu?” tanyaku. Kalau ya, baguslah. Kalau tidak, mau bagaimana lagi?
3
2
1
“Ya.”
Eh?
Apa?
Telingaku tidak salah dengar, kan?
Ya?
Dia bilang ‘Ya’?!

“Eh… Apa?”

“Aku bilang ya!”

“SAGIIIII!!!” aku balik memeluknya, menandingi tenaganya.
“Aishiteru, Sagi…”
“Aishiteru yo…”
Mungkin memang aneh, pada akhirnya jatuh cinta pada orang yang tiba-tiba nyelip di kehidupanmu. Mungkin memang aneh, jatuh cinta pada orang yang kaukenal tidak lebih dari tiga tahun. Mungkin memang aneh, jatuh cinta pada orang yang suka memanggilmu dengan nama-nama aneh.
Tapi, itu bukan berarti bahwa tidak mungkin jatuh cinta pada orang seperti itu.
Aku salah satunya.
Karena aku mencintainya.
Orang yang tiba-tiba nyelip di kehidupanku.
Orang yang kukenal tidak lebih dari tiga tahun.
Orang yang suka memanggilku dengan nama-nama aneh.
Aku mencintainya.
Aku mencintai Sagi…
End of Kouichi’s POV
.
Sementara tak jauh dari mereka, dua orang itu memperhatikan semua yang terjadi. Salah satunya—yang pria—menggaruk kepalanya dan berkata pada yang wanita.
“Kurasa ide buruk kita mengintip ini, Shii…”

::owari::

Fanfic Ryuusei no Kizuna~ KouSagi~ Akhirnya bikin juga… Dibantuin dikit sama temen, akhirnya malah jadi gini =_=

Ditulis pada Uncategorized | Di-tag , , | Tinggalkan Komentar

It’s for Her

Ini buat temenku yang TERBAIK, yang dengan BAIK HATInya musuhin aku gara-gara aku temenan sama musuhnya. Ini buat temenku yang paling SEMPURNA dan TERHORMAT, yang dengan BIJAKSANAnya ngendaliin pertemenan di kelas. Dengan senyum yang bener-bener MANIS dia ngatur siapa temenan sama siapa. Ini buat temenku yang paling BERKUASA dan TERMULIA di seantero kelas. Buat temenku yang TERPINTAR sepanjang masa. Yang dengan CERDASnya ngambek kalau dimusuhin, tapi sendirinya paling antusias kalau udah musuhin orang. Yang langsung nangis waktu diomongin orang, tapi sendirinya paling gencar ngomongin orang lain–dan langsung musuhin orang itu kalau orang itu sampe nangis. Ini buat temenku TERSAYANG yang seenaknya manggil orang lain munafik padahal sendirinya munafik. Buat temenku yang TERCANTIK, yang bahkan kaya’nya dia ga punya kaca di rumahnya. Yang dengan KECANTIKANNYA langsung ngegaet beberapa cowok sekaligus, dan nangis kalau ditolak. Hihi… Jangan kira semuanya bakal nurutin kamu. Tadi memang kurang jelas, tapi sekarang kukasih tau dengan jelas: AKU BENCI KAMU!

Ditulis pada Uncategorized | Di-tag , | Tinggalkan Komentar

Well, sebenernya ini ga penting. Cuman pengen nge-share doang pengalaman ini… Waktu itu (Nama disamarkan~) aku (Y), A, sama B lagi duduk di lorong. Ga berapa lama kemudian, dateng C yang lagi ngobrol sama D, E, F, & G. Kita sih awalnya cuek aja. Tapi… Waktu mereka nyampe di ujung lorong, dateng H, I, sama… F! F LAGI! Waktu ditanyain, ini jawabannya:

A: IYA! Kita bertiga liat F ngobrol sama C, D, sama E! Mereka ngobrol berempat. Terus, waktu mereka nyampe di ujung lorong, muncul lagi F sama H, I, sama G!

B: Sama!! Terus, waktu F lewat lagi, kita cegat & tanyain dia, apa dia tadi bareng C atau nggak. Katanya, dia nggak bareng C!

C: Apa? Kapan, tuh? Udah lupa. Kejadian lama ngapain diinget?

D: Iya, aku bareng C, E, F, sama G. Kita ngobrol, koq! APA? F ada dua? Lho–koq bisa?

E: Waktu itu kita lagi baru mau ke lapangan. Iya~ Kita berlima, koq! Aku, C, D, F, G!

F: AKU BARU LEWAT?! APA?! Dari tadi juga aku bareng H sama I, koq! Kita bertiga terus! Tanya aja mereka!

G: Ooh… Waktu itu… Aku bareng sama F, H, sama I.

H: Kita bertiga terus dari habis pulang sekolah. Aku, I, sama F barengan terus, koq… Hah? F baru aja lewat? Aaah… Halusinasi, kali!

I: Sama kaya’ H…

Y: Aku liat C, D, E, F, sama G jalan. Terus, waktu mereka nyampe ujung lorong, dari ujung yang satunya F muncul lagi bareng H sama I…

Nah, segini, deh… Ada yang ngerasa aneh? Apa? Ga ada? Hiehe… G ngerasa kalau dia ikut sama F, H, sama I. Tapi F, H, sama I sendiri bilang kalau mereka cuman bertiga. A sama B liat G bareng F, H, sama I dan mereka sama sekali ga liat G ada bareng C, D, E, sama F. Aku juga ngeliatnya GITU!! D sama F tapi bilang kalau G ada bareng mereka~ Huakak~ Parah~~

Ditulis pada Uncategorized | Di-tag | Tinggalkan Komentar