Gomen ne Hinata
A Naruto Fanfiction
Disclaimer: Masashi Kishimoto
-yoruzuki23-
“Hei, kau sedang apa di sana?”
“Ka—Kau siapa?”
“Sasuke. Uchiha Sasuke. Kau?”
“Hinata… Hyuuga Hinata.”
-yoruzuki23-
Perkenalan singkat. Namun itu cukup. Cukup untuk membuat Sasuke tertarik pada gadis yang saat itu sedang menangis. Cukup untuk membuat Hinata tertarik pada pria yang saat itu terlihat garang.
Dan entah bagaimana, Sasuke mulai menyukainya. Ia tidak peduli hal lain lagi. Ia menyukai Hinata.
“Sasuke, kau sudah punya kanojo?” tanya Mikoto.
“Hm? Ya,” jawabnya singkat.
“Hee? Siapa? Siapa?”
Sasuke baru hendak menjawab, namun Fugaku memotongnya. “Pastikan itu bukan anak Hyuuga, Sasuke.”
Sasuke kembali bungkam. Memang Hyuuga. Lalu, apa salahnya? “Jadi, siapa kanojo-mu?” tanya Mikoto lagi.
Sasuke menghela nafas pelan. “Tidak ada.”
Seorang Hinata Hyuuga. Yang berhasil kembali mewarnai dunianya. Yang berhasil memberikan warna-warna kehidupan padanya. Sasuke menyukainya—mencintainya. Lantas kenapa? Apa hak orang tuanya untuk melarangnya?
-yoruzuki23-
Hinata membuka pintu menuju atap. “Sasuke?” ia menyeritkan dahi saat melihat Sasuke berdiri di hadapannya. Sasuke menelan ludah beberapa kali.
“Sasuke? Ada apa?”
“Suki…” hanya itu kata yang terlontar dari mulut Sasuke. Namun itu sudah cukup.
Hinata menatapnya, setengah tidak percaya. “Eh?”
“Suki,” kali ini, Sasuke mengatakannya dengan cepat.
“E—eh?”
“Jangan buat aku mengulanginya lagi! SUKI DA YO, HINATA!”
Hinata melongo sesaat. Sebelum seulas senyum tertampang di wajahnya. Dia melompat dan memeluk Sasuke dengan erat.
“Suki… Suki…!”
“Dengar, Hinata…” Sasuke melepaskan pelukannya pelan. “Aku akan melindungimu, Hinata. Meskipun… Aku kehilangan segalanya… Aku—”
“—Ya,” Hinata memotong perkataan Sasuke. “Sudahlah…” ia tersenyum.
-yoruzuki23-
“Sasu…” Hinata menjauhkan bibirnya dari bibir Sasuke. Menarik nafas, sebelum akhirnya ia kembali mendekatkannya.
“Aishiteru…”
“Aishiteru yo…”
Seratus kali. Seribu kali. Bahkan mungkin lebih. Bibir mereka melekat satu sama lain. Dan itulan cara mereka untuk membuktikan perasaan mereka masing-masing. Namun, baik Sasuke maupun Hinata menyadari. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Ini tidak boleh terjadi.
Hyuuga dan Uchiha. Semua tahu, kedua klan tersebut sedang terlibat konflik yang cukup parah.
Keduanya tidak bisa bersama.
Hyuuga dan Uchiha tidak mungkin bersatu.
Keduanya menyadari. Akhir dari hubungan mereka semakin mendekat.
“Hinata.”
“Ya?”
“Sampai kapan… Kita akan bertahan…?”
“Selama yang kita bisa.”
Tidak ada gunanya bagi Hinata untuk mencoba terlihat tegar. Tidak ada gunanya bagi Sasuke untuk bersikap seolah itu bukanlah masalah besar. Akhir. Akhir dari hubungan mereka. Semakin mendekat. Mereka takut menghadapi hari esok, karena itu berarti hari bagi mereka untuk bersama akan berkurang.
-yoruzuki23-
“Hinata, kau boleh memilih satu dari orang-orang ini,” Hiashi menjejerkan beberapa foto di hadapan Hinata.
“U—untuk apa?”
“Aku tidak mengijinkanmu untuk bertemu dengan Uchiha itu lagi. Karena itu, pilihkan satu dari orang-orang ini untuk menggantikannya.”
“Kenapa…?”
“Jangan banyak tanya. Cepatlah.”
-yoruzuki23-
Sasuke menghela nafas panjang saat mendengar semuanya dari Hinata. “Jadi? Yang kau pilih?”
“Pria pirang bermata biru.”
“Ooh…” Sasuke memasukkan tangannya ke saku jaketnya. Rasa sakit mulai menghujamnya. Dengan begini, mereka akan semakin sulit untuk bertemu.
Dengan Hiashi yang telah mengetahui hubungan mereka, maka akhir dari hubungan mereka semakin dekat.
Tidak ada gunanya Hinata menangis.
Tidak ada gunanya Sasuke menyesal.
Sasuke menggigit bibirnya.
Dari beribu kalimat yang ingin ia lontarkan, hanya satu kalimat yang lolos dari mulutnya.
“Gomen ne, Hinata…”
-yoruzuki-
“Siapa dia, Sasuke? Apa dia… Kanojo-mu?” tanya Mikoto saat melihat sebuah foto—yang Sasuke dan Hinata buat di sebuah photobox.
Sasuke hendak mengelak, namun ia sadar. Tidak ada gunanya. Toh gadis itu tidak lama lagi hanya akan menjadi masa lalu baginya.
“Ya,” jawab Sasuke. Mikoto memperhatikannya sesaat. Ia baru hendak berkomentar, namun Fugaku sudah merebutnya dari tangan Mikoto.
“Anak ini… Hyuuga?”
“Ya.”
“SASUKE! Sudah pernah kubilang, kan? Kau tidak boleh—”
“AKU TAHU!” Sasuke menggebrak meja dengan keras dan berjalan keluar. Ia tidak ingin lagi mendengar tentang konflik antara Hyuuga-Uchiha dan bahwa mereka tidak boleh bersatu.
Keluar dari rumahnya. Menuju kediaman Hyuuga. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ponsel Hinata. Tidak bisa dibiarkan berjalan lebih lama lagi. Ia akan mengakhirinya. Hari ini, saat ini. Ia sudah membulatkan tekadnya. Ia akan mengakhiri hubungan mereka.
“Sekarang. Keluarlah. Aku tunggu di depan rumahmu.”
Tanpa menunggu respon dari Hinata, Sasuke menutup teleponnya.
“Sasuke! Maaf, lama menung—”
Perkataan Hinata terpotong. Bibir keduanya bersentuhan.
“Sasuke…?”
“Ini yang terakhir…” kata Sasuke pelan. Mata Hinata membulat. “Apa itu artinya—”
“Ya… Hinata, kau sayang orang tuamu, kan?” tanya Sasuke. Hinata mengangguk.
“Kau tidak ingin mengecewakan mereka, kan?”
Hinata kembali mengangguk.
“Hubungan kita itu salah… Karena itu… Hyuuga dan Uchiha… Aku…” Sasuke menutup matanya. Kalimatnya mulai tidak jelas. Suaranya bergetar. Menahan air mata yang sudah menumpuk di ujung matanya.
Namun, Hinata mengerti. Uchiha dan Hyuuga tidak akan pernah bisa bersatu. Karena itu, inilah akhir dari mereka. Ia tahu, cepat atau lambat, hari ini akan datang juga. Hari di mana semuanya akan berakhir. Sasuke Uchiha. Orang yang mencintainya lebih dari apapun. Kini menyakitinya, lebih dari siapapun.
Sasuke—lagi-lagi—menggigit bibirnya. Hatinya terus-menerus meneriakkan sebuah kata. Kata yang akhirnya diucapkannya.
“Sayonara…”
Akhir dari segalanya. Tak ada lagi pelukan yang menghangatkan, tak ada lagi tangan yang saling menggenggam, tak ada lagi bibir yang saling bersentuhan.
Semuanya telah berakhir.
-yoruzuki23-
Sasuke membalikkan badannya, kembali berjalan menuju rumahnya. Air matanya sudah bercampur dengan hujan yang mendadak turun. Sakit. Hanya itu yang dirasakannya.
.
Hinata membalikkan badannya, kembali masuk ke dalam rumahnya. Hari yang paling ditakutinya akan datang. Telah datang. Tanpa pemberitahuan. Hari yang akan mengakhiri hubungannya.
.
Dan yang pertama terpikir oleh Sasuke adalah: lari. Lari dari perasaannya sendiri. ia harus mencoba untuk menyukai orang lain. Namun, ia tidak bisa. Sekarang, ia mulai membenci sesuatu yang disebut ‘cinta’. Ini adalah salahnya. Ini adalah salah ‘cinta’. ‘Cinta’lah yang telah menyakitinya. Yang telah menyakiti Hinata juga.
.
Hinata menghela nafas berat. Ia sudah tidak mampu tersenyum lagi. Senyumannya kini kosong. Tidak ada artinya. Ya, Sasuke telah menghapusnya. Menghapus senyumannya.
.
“Tadaima.”
“Okaeri. Hei—Kenapa kau basah sekali? Kau hujan-hujanan?”
Sasuke tidak menjawab. Ia segera menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya. Berbagai pertanyaan mulai berkecambuk di dalam pikirannya.
“Itachi-nii,” panggil Sasuke pelan.
“Hn?”
“Apakah… Pertemuanku dengannnya adalah suatu kesalahan?”
Itachi terdiam sejenak. “Aku rasa tidak,” jawabnya. “Semuanya telah diatur. Tidak ada yang namanya ‘kesalahan’ dalam sebuah ‘pertemuan’. Semuanya sudah ditentukan sejak awal.”
“Jadi, aku bertemu dengannya… untuk berpisah dengannya? Semuanya sudah… Ditentukan sejak awal…?”
“Hah?”
“Orang yang… Merampas senyumannya… Orang yang… Paling menyakitinya…” Sasuke mengepalkan tangannya. “Aku. Akulah yang telah merampas senyumannya. Akulah yang paling menyakitinya—lebih dari siapapun. Akulah yang…”
Sasuke mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.
“Maafkan aku… Akulah… Yang paling salah…”
-yoruzuki23-
“Sasuke? Ada apa?” seorang gadis berambut merah mudah segera menggandeng tangannya. Sasuke hanya tersenyum dan berkata ‘tidak ada apa-apa’.
“Ayo pergi, Sakura.”
Sakura. Korban pelariannya. Meski Sasuke berharap, ia akan bisa melupakan perasaannya pada Hinata dengan mencoba untuk menyukai Sakura, ia tetap tidak bisa.
Ia merindukannya. Ia merindukan Hinata. Selama ini, ia hanya selalu memandang Sakura sebagai Hinata. Yang dipandangnya bukan Sakura. Tetap Hinata. Ia ingin bertemu dengan Hinata. Sangat ingin. Tapi, ia tahu, ia tidak akan bisa lagi bertemu dengan Hinata.
Ia pernah kehilangan ponselnya. Ia pernah kehilangan USBnya. Ia pernah kehilangan temannya. Namun, perasaannya tidak seperti ini. Saat ia kehilangan Hinata.
“Sasuke, kau mau ke mana?” tanya Sakura. Sasuke asal menunjuk sebuah toko pada deretan toko di hadapan mereka.
“Café? Baiklah!” Sasuke tidak lagi peduli saat tangan Sakura menariknya menuju café tersebut.
“Oh, ya, Sasuke. Kau punya permohonan?”
“Permohonan? Memangnya ada bintang jatuh?”
“Bukan, bukan… Hari ini kan malam natal.”
“Lalu?”
“Mau ke gereja?”
“Ok.”
Sakura memutar langkahnya. Kini, ia menuju sebuah gereja.
Ia mengatupkan tangannya dan mulai berdoa. “Aku ingin…” bisik Sasuke pelan. ‘Aku ingin bertemu dengan Hinata!’ lanjutnya dalam hati.
Ia tahu, seharusnya, bukan Sakura yang berada di hadapannya.
Melainkan Hinata.
Di malam natal ini.
Ia sudah cukup lelah untuk terus melarikan perasaannya. “Sakura,” Sasuke menarik tangannya yang digenggam Sakura. “Maafkan aku.” Dua kata. Singkat, namun cukup untuk membuat Sakura mengerti maksudnya. “Sasu…?” Sakura menolak untuk mempercayainya. “Maaf.”
Ia membalikkan badannya. Lari. Seharusnya, bukan Sakura yang bersamanya. Melainkan Hinata. Malam ini. Ia ingin bertemu Hinata. Ia tidak bisa lari lagi. Semuanya tidak berubah. Lari tidak akan mengubah apa-apa. Melarikan diri bukan jalan keluarnya. Ia tahu, suaranya, perasaannya, tidak akan mencapati Hinata. Tapi, ia tetap…
“HINATA!”
Aku ingin menemuimu…
“HINATA!”
Sekarang kau ada di mana?
“HINATA!”
Yang seharusnya ada bersamaku sekarang bukanlah Sakura, tapi kau…
“HINATAAA!”
Apa kita sudah tidak bisa bertemu lagi?
Sasuke terengah. Ia berhenti sejenak. Membisikkan pengakuannya dengan pelan. “Aishiteru… Aishiteru, Hinata…”
-yoruzuki23-
Satu minggu. Dua minggu. Tiga minggu.
Sasuke tahu, tidak ada gunanya ia terus mengharapkan Hinata. Namun, ia tetap melakukannya. Ia menganggap orang yang terus mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin didapatkannya adalah orang bodoh. Dan kali ini, ialah yang menjadi orang bodoh tersebut.
“Sasuke,” Itachi memberikan secarik amplop pada Sasuke.
“Dari siapa?” tanya Sasuke.
“Hyuuga.”
“Hyuuga?” Sasuke menyeritkan dahinya. Ia lalu mengambilnya dari tangan Itachi dan membukanya. Matanya melebar, sesaat sebelum hatinya mencelos. Ia lalu tersenyum miris. “Mereka sengaja mengirimnya padaku,” bisiknya. “Mereka sengaja…”
-yoruzuki23-
Penutupan peti. Sasuke segera berjalan menuju peti tersebut dan menatap Hinata. Untuk yang terakhir kalinya. Sebelum ia tidak akan bisa lagi melihat Hinata untuk selamanya. Sasuke menatap mayat di hadapannya dengan tatapan kosong. Mayat Hinata. Hinata. Hinata-nya. Meninggalkannya di dunia ini.
“Saat kita lahir, kita menangis sementara orang-orang di sekeliling kita tersenyum. Saat kita mati, kita yang tersenyum sementara orang-orang di sekeliling kita menangis. Benar-benar… Aneh, ya…?” Neji membuyarkan lamunan Sasuke.
“Kau ingin bilang… Sekarang, Hinata sedang tersenyum?”
Neji tersenyum tipis. “Ya.”
Sasuke kembali menghela nafas panjang. Ia mencintai Hinata. Lebih. Lebih dari apapun. Tapi kenapa… Semuanya begitu kejam. Kejam, sangat kejam. Mempermainkan perasaan orang seperti ini. Sangat kejam. Namun nyata.
Semuanya sudah ditentukan sejak awal.
Pertemuan dan perpisahan.
Semuanya telah ditentukan.
Sasuke sudah sangat menyakiti Hinata. Maka kali ini, Hinata-lah yang menyakitinya. Adil, namun kejam.
Sasuke yang sudah merampas senyum Hinata. Maka kali ini, Hinata-lah yang merampas senyumannya.
“Takdir memang kejam, ya…”
-yoruzuki23-
Sasuke meletakkan bakung hitam di depan sebuah batu nisan.
“Sudah setahun, ya?”
“Hn.”
Sasuke menepukkan tangannya beberapa kali, sebelum akhirnya ia menunduk dan mengatupkan tangannya. Neji—yang berdiri di sebelahnya—juga melakukan hal yang sama.
Hinata. Yang pernah disakitinya. Yang pernah menyakitinya. Yang pernah dirampas senyumnya. Yang pernah merampas senyumnya.
“Sasuke, kau tahu kenapa Hinata meninggal?”
“Tidak.”
“Tertabrak mobil. Karena saat itu, ia tidak memperhatikan jalan.”
“Hn.”
“Kau tahu kenapa ia tidak memperhatikan jalan?”
“Tidak.”
“Karena ia terus memperhatikan ini,” Neji mengeluarkan sebuah foto dari sakunya. “Ini…”
“Ya. Foto yang kalian buat di photobox.”
Sebuah foto. Baik Hinata maupun Sasuke sedang tersenyum. Di tengahnya, berbagai tulisan dan coret-coret menghiasi foto tersebut. Dan di belakang foto tersebut, terdapat sebuah tulisan. “A-i-shi-te-ru Sa-su-ke…?” hati Sasuke kembali mencelos.
Ini salahnya. Salahnya. Tidak hanya menghapus senyuman Hinata, ia bahkan merampas nyawanya. Hatinya mulai kacau.
Dari beribu kalimat yang ingin dilontarkannya, hanya satu kalimat yang lolos dari mulutnya.
“Gomen ne, Hinata…”
.::owari::.
Udah ada yang bisa nebak itu songfic dibuat dari lagu apa? Yep, lagunya Yamapi yang Gomen ne Juliet. Ini sebenernya udah di-post di FFn~ Yah, ini memang fanfic dari temenku, sih. Cuman, gara-gara dia ga punya blog, dia nyuruh aku buat nge-post ini di blogku~
Jangan lupa review di FFn juga, yaa~